Pergilah Jika Hanya Melihat dan Membaca




Terbanglah dan ingat bumi.
6:46 pm, by desepsi
permalink





Setiap berkomunikasi dengan orang lain, yang saya dapatkan (membuat sendiri) adalah SINDIRAN. Dan sampai sekarang semua SINDIRAN itu adalah motivasi untuk diri saya sendiri.

mata hati
5:33 am, by desepsi
permalink
tagged: sindirian sosial,






Etika

Etika kb. ilmu yang berkenaan tentang yang baik dan buruk tentang hak dan kewajiban moral.

Detik, menit, jam dan segalanya dengan satuan waktu itu selalu berputar, seperti bentuk bidang yang tak bertepi.

Saya bukan membicarakan mengenai ilmu matematika, tapi saya akan membahas tentang sebuah etika.

Ketika sebuah etika menjadi bibit permasalahan dalam suatu komunikasi. Hal itu menjadi sangat BASA BASI. Saya berpikir, apa yang menjadi tolok ukur sebuah kelaziman dari etika??

Jika saya boleh menebak, hal itu datang karena ada satu hal yang tidak sejalan dengan pemikiran orang?Yang dimana kita dikatakan sebagai orang yang tidak bisa memiliki pandangan umum?

Jika benar seperti itu, siapa yang sebenarnya egois? Mungkin saya lebih senang mengatakan sikap seperti itu adalah EGOIS TERAPAN, bukan EGOIS MURNI (saya tidak pernah tahu/menahu akan ilmu yang membahas tentang egois tersebut).

Menurut saya, apa pun ceritanya, bagaimana pun intinya, hal PRIBADI itu harus tetap diatas hal UMUM. Dan dalam setiap detik kita berjalan dengan waktu di dunia ini, kita harus memiliki kedua hal itu.

Intinya, hal-hal mengenai Etika itu tidak seharusnya dipermasalahkan oleh bibir yang kemudian diteruskan ke otak orang lain.

Renungkan sejenak, berkaca dahulu, pikirkan jalan keluarnya, barulah kau bicara.







Kau Datar

Ruang persegi, tapi bukan kotak dan masih ada sisi.

Kusendiri…

Berbicara kepada cangkir, asbak dan puntung yang masih berasap.

Kuangkat secangkir kopi dengan bibir dahaga, tapi ku tak haus.

Hanya untuk melenggangkan asap rokok ke bibirku nantinya.

Kau marah padaku… Ku acuhkan…

Dan kutumpahkan kopi ke kasur lusuh ini…

Ku bercengkerama dengan dinding… dia datar

Apakah kau masih mencintaiku?

Seperti ucapanmu saat kau menikmati jiwaku?







Seandainya

Seandainya aku BISA melakukannya, pasti kau sudah tersenyum.

Seandainya aku BISA melakukannya, kau sudah tersenyum dan kau tak perlu memintanya.

Seandainya aku BISA melakukannya, kau akan tetap tersenyum tanpa perlu memintanya dan kau akan selalu ada di hatiku.

Maafkan aku… seandainya saja aku BISA melakukannya….

4:44 am, by desepsi
permalink
tagged: puisi,






Cacat

Bukan maksud saya untuk mencela orang yang cacat, maaf sebelumnya. Saya hanya ingin memberikan perasaan yang sedih, senang dan bangga tentang hal CACAT.

Ketika saya melihat mereka, manusia yang cacat didepan mata, saya merasa sangat sedih sekali, tidak tahu kenapa. Tidak bisa saya pastikan kesedihan itu seperti apa. Tanpa sadar air mata itu mengucur dari mata. 

Saya melihat keikhlasan yang luar biasa ketika mereka berbalik melihat saya. Dengan segala kekurangan, mereka memberikan pancaran senyum penuh keikhlasan, atas apa yang mereka rasakan. Kekuatan yang sangat luarbiasa. Membuat saya membalas senyum dan dengan mata yang berbinar-binar. Sungguh saya senang melihat hal itu. Sangat senang…. 

Saya berpikir sejenak,
Apa yang membuat mereka selalu sabar?
Kekuatan seperti apa yang mereka miliki sehingga merasa tidak perlu untuk menikmati segala kesedihannya. 

Banyaknya manusia normal, dan dengan segala kemampuan ataupun kemapanannya, baik dalam fisik ataupun materi, masih juga selalu merasa sedih, dan berlebih-lebih dalam kesedihannya. Perlukah mereka mencontoh manusia cacat? Saya kira sangat perlu, agar mereka tidak perlu memberikan aroma kesedihan kepada para manusia yang selalu saja suka mencicipi kesedihan.

Seandainya saya menjadi cacat seperti mereka (para manusia hebat), apa yang akan saya lakukan? Mungkinkah saya memberikan segala rasa keikhlasan dan bersyukur atas pemberian dari DIA?

11:05 am, by desepsi
permalink
tagged: cacat,